8 Jun 2017

When Can You Give Up

Namanya Rina, hari Sabtu itu dia menjadi peserta sebuah seminar leadership di mana saya tampil sebagai pembicara.

Saya sedang menerangkan bahwa motivasi kita selalu naik turun pada saat kita sedang mengalami perubahan dan harus beradaptasi dengan lingkungan yang baru.

Dan saya menyampaikan  bahwa pada saat motivasi kita turun, kita tidak boleh mudah menyerah. Karena memang prosesnya selalu begitu, motivasi akan turun dulu sebelum naik lagi dengan performance.

Karena memang pada saat motivasi itu turun maka disitulah terjadi ujian, apakah anda seorang pemenang (winner) yang akan terus berusaha atau anda seorang pecundang (losers) yang akan menyerah dengan mudah.

Kemudian saya membuka sessi tanya jawab.
Dan seperti biasa ada tiga peserta yang angkat tangan.
Saya gak tahu mengapa, hampir di semua event saya penanyanya selalu tiga dengan urutan seperti ini (1. Cowok muda yang pintar, 2. Bapak  bapak tua yang bijak , 3. Wanita cantik dan pemalu)
Nah Rina ini termasuk kategori ketiga 😁
Kita dengarkan pertanyaannya ....

"Pak Pam, memang kita jangan mudah menyerah. Saya setuju. Tapi bagaimana kalau ternyata perubahan itu memang begitu berat dan ternyata membawa impact yang sangat besar bagi kehidupan pribadi kita? Bahkan mungkin akan terjadi perceraian? Apa yang harus kita lakukan? Bolehkah kita menyerah?"

Wow ! Pertanyaan yang sangat keren. Dan menarik untuk di bahas!

Tentu saja sangat valid. Dan saya kan  bilangnya jangan mudah menyerah. Saya tidak akan bilang jangan pernah menyerah!
Karena saya sendiri pernah menyerah.

Saya pernah melakukan kesalahan dengan memindahkan keluarga saya ke sebuah negara di mana ternyata mereka tidak siap untuk beradaptasi di sana.
Pekerjaannya sangat challenging dan menarik bagi saya. Reward dan remunerasi saya juga sangat bagus.
Tetapi meskipun saya enjoy dan perform dalam pekerjaan saya, istri saya sering sakit dan anak anak saya harus teratur  berkonsultasi dengan psikolog . Karena ternyata benturan budaya (culture shock) yang mereka alami memang luar biasa.

Dan sampai beberapa bulan kemudian psikolog nya memanggil saya dan bertanya,"Apakah anda masih bisa mencari pekerjaan ke negara lain?"
Saya bilang bisa!

Dan psikolog saya menyarankan saya untuk memindahkan keluarga saya ke negara lain.
Bulan depannya saya mendapatkan beberapa job offer dan saya ambil salah satu. Dan saya memindahkan seluruh keluarga saya.
Jadi saya juga pernah menyerah, pada saat milik saya yang paling berharga (my family!) sudah pada resiko yang tinggi .

Dont worry, sekarang mereka sehat sehat, dan kami semua mengambil pelajaran banyak dari semua pengalaman kami.
Sekarang kami lebih siap menghadapi perubahan dan benturan budaya (culture shock ) di manapun.

Bahkan sekarang anak-anak saya bilang bahwa mereka bersyukur bahwa mereka pernah mengalami hal itu. "That experience made us much stronger", kata anak perempuan saya.
Dan ini mengingatkan saya pada pepatah bahwa seorang nahkoda handal tak pernah terbentuk di laut yang tenang. Mereka harus mengalami ombak, topan dan badai.

Jadi jangan mengira bahwa ada yang tidak pernah gagal atau ada yang tidak pernah menyerah. It is OK. Kuncinya adalah bagaimana anda bangun setelah anda gagal atau menyerah.

Seseorang pernah mengajarkan ke saya, bahwa pada saat anda bermain juggling, kalau anda hanya  bisa  ber juggling dengan 3 bola, kalau anda juggling dengan 4 bola, kita pikir hanya satu bola yang jatuh, padahal sebenarnya 4 bola yang akan jatuh (trust me, I can juggle with 3   balls, really).

Sama dengan prioritas hidup kita , ada pekerjaan, keluarga, hobby, teman teman atau apapun. Understand your priority. Jangan sampai bolanya jatuh.

Tapi kalau yang jatuh masih pekerjaan atau hobby sih gak apa apa. Bolanya dari karet, jatuh masih  bisa diambil lagi. Kalau keluarga itu bolanya kristal, sekali jatuh akan susah sekali diperbaiki dan mungkin seumur hidup anda bola itu akan retak meskipun anda berusaha menyatukan kembali.

Itulah mengapa kadang kadang saya mengorbankan karier saya, kadang kadang saya mengorbankan kebahagiaan saya, tapi saya tidak akan pernah mengorbankan keluarga saya.

Jadi untuk menjawab pertanyaan Rina, apakah kita  boleh menyerah? Boleh!
Kapan? Pada saat kita sudah  berusaha keras, berkali kali bangkit, tetapi saat milik kita yang paling berharga mulai terancam dan beresiko tinggi, maka anda boleh menyerah!

Apakah milik anda yang paling berharga? Terserah anda, mungkin berbeda beda bagi semua orang.
Kesehatan anda? Keluarga anda? Iman anda? Karier anda?
Define your own priority.

Langkah langkah di bawah ini akan membantu anda untuk membaca situasi apakah anda harus menyerah, dan apa yang sebaiknya anda lakukan ....

1. Understand what are your priorities in life?
Apakah yang menjadi prioritas dalam hidup anda. Hal hal yang tidak akan pernah anda korbankan.
Keluarga? Karier? Kesehatan? Iman anda? atau apa?
Anda harus jelas dengan prioritas anda dulu.

2. Assess if your "struggle" will sacrifice your priorities or  not?
Perjuangan anda untuk  beradaptasi dengan perubahan dan mencapai kesuksesan akan memakan waktu panjang. Menghabiskan energi, keringat, waktu dan focus anda.
Apakah anda siap?
Evaluasilah. Apakah perjuangan itu akan mengorbankan milik anda yang paling berharga.

3. Can you still see the positive outcome?
Apakah anda masih bisa melihat cahaya terang di ujung terowongan?
Adakah tanda tanda bahwa ini akan berhasil?
Atau jangan jangan memang ada yang susah dicapai karena bukan hanya peran anda yang dibutuhkan?
Atau karena perlu kerjasama dari pihak pihak lain (yang ternyata tidak mendukung)?

4. Prepare with Plan B
Nah , kalau memang anda mau menyerah (setelah mengevaluasi langkah 1-3), sekarang mulailah untuk bersiap siap menyerah.
Tapi jangan lupa untuk menyiapkan rencana lain; plan B atau continegncy plan.

5. Start to execute Plan B while still performing at maximum level in the current role
Pada akhirnya mulailah jalankan Plan B (misalnya pada saat anda harus mulai mencari pekerjaan ke tempat lain).
Tapi inget bahwa selama anda masih mencari, selama anda masih belum menemukan pekerjaan lain, you have to still do your best and perform at your maximum level in your current job.
Jangan menghancurkan reputasi anda sendiri. Nanti akan susah mencari pekerjaan lain.

Jadi ingat, apa yang harus anda lakukan untuk meng-assess apakah sudah saatnya anda menyerah, dan apa yang sebaiknya anda lakukan ...

1. Understand what are your priorities in life?
2. Assess if your "struggle" will sacrifice your priorities or  not?
3. Can you still see the positive outcome?
4. Prepare with Plan B
5. Start to execute Plan B while still performing at maximum level in the current role

Sumber: Pambudi Sunarsihanto

Tidak ada komentar:

Posting Komentar