11 Apr 2017

Leaders Have to Play Dual Role: Motivator and Challenger

Pemimpin itu harus memainkan 2 peran: motivator dan challenger

Namanya pak Romy. Dia baru saja menjadi CEO di sebuah perusahaan keluarga. Ownernya merasa sudah saatnya perusahaan dikelola secara profesional dengan mendatangkan CEO dari luar. Maka  ownernya yang sudah lama mengenal pak Romy pun membujuk pak Romy untuk join dan menjadi CEO di perusahaan itu.
Pak Romy yang memang sudah berada cukup lama di posisi sekarang dan mencari tantangan baru pun akhirnya menerima challenge ini.
Dan selama sebulan pertama dia melakukan observasi tentang apa saja yang dilakukan di perusahaan itu.

Hari itu dia mengundang saya makan malam untuk ngobrol tentang observasinya. Kami bertemu di sebuah rumah makan di daerah Senopati.

Setelah bebasa basi sebentar Pak Romy pun langsung menyampaikan idenya,"Pantes aja ownernya pengin saya join. Banyak banget yang harus saya perbaiki. Saya sudah amati selama sebulan ini. Dan saya memang melihat ada 12 area yang harus diimprove. Jadi rencana saya adalag mengirimkan email ke seluruh karyawan saya. Saya namakan CEO letter. Isinya adalah hal hal yang harus diperbaiki untuk bisnis kita. Ini  emailnya sudah saya tulis dan besok saya akan kirim. What do you think?"

Pak Romy menunjukkan 3 lembar surat yang isinya 12 area yang harus diimprove.
Saya pura pura mengaduk teh panas di depan saya (padahal sebenarnya saya ingin menepuk jidat!)

Ini ada seorang leader yang baru.
Dalam 12 bulan dia sudah menemukan daftar "kesalahan" anak buahnya, yang harus "diperbaiki".
Padahal "perbaikan" apapun tidak akan bisa berjalan tanpa support dan dukungan anak buahnya.
Apakah dengan cara seperti ini dia akan memotivasi anak buahnya dan mendapatkan dukungan mereka?

Well, mari kita membaca pikiran mereka (by now you remember that I am a mind reader, right?)

Anak buahnya kira kira akan berpikir begini
"Ini CEO baru siapa sih? Kenalannya Owner ya? Terus memang dia ngerti bisnis kita? Memang dia ngerti perusahaan kita yang complex?
Baru juga sebulan sudah nulis daftar 12 area yang kita harus perbaiki?
Jadi selama belasan tahun ini yang kita lakukan semuanya salah ya?
Kalau memang semua salah, kenapa perusahaan kita selalu profitable selama belasan tahun?
Belajar dulu dong, sebelum main kritik gitu aja!"

Sebagai orang Indonesia, mereka tidak akan pernah mengatakan itu kepada pak Romy. Tetapi saya yakin itu yang ada di benak mereka. Dan tentu saja dengan reaksi seperti itu akan sudah sekali mendapatkan dukungan dan support dari anak buahnya.
Dan perbaikan yang dicanangkannya akan sia sia.

Dan itu yang seringkali terjadi apabila seorang Leader hanya bisa mencela dan melihat negative nya saja. Banyak yang begitu. Pak Romy termasuk salah satu di antaranya.

Jadi bagaimana? apakah kita tidak boleh mengkritik? bukankah kritik itu untuk perbaikan. Bukankah "feedback is a breakfast of a champion". Setuju pakai banget!
Cuma tentunya anda harus menyampaikan feedback anda dengan baik agar:
- orangnya mau mendengarkan
- orangnya mau memperbaiki

Caranya gimana?
Yang jelas bukan dengan membunuh motivasi mereka seperti yang dilakukan Pak Romy dengan suratnya yang sepanjang 3 lembar dan berisi daftar 12 dosa anakbuahnya.

Jadi bagaimana dong? Sederhana saja. Leader harus memainkan 2 peran, sebagai motivator (bagi anak buahnya) sekaligus sebagai challenger ( bagi mereka juga).
Dua duanya harus jalan.
Kalau hanya sebagai challenger (seperti Pak Romy dengan 12 daftar dosa), anak buahnya akan gedheg, dan mengalami demotivasi, gimana mau memperbaiki?

Kalau hanya sebagai motivator? Cuma memuji anak buahnya? Nanti mereka akan lupa diri dan terbuai dalam pujian dan tidak mau memperbaiki!

Seorang leader yang baik mampu melakukan keseimbangan antara dua peran itu: sebagai motivator dan challenger!

Bagaimana caranya?
Kita ikuti langkah langkah di bawah ini ...


1. Give balance feedback, 3 positive and 3 area of improvement

Jangan langsung membuat daftar 12 dosa. Sampaikan feedback anda dengan seimbang.
Sampaikan 3 hal yang sudah berjalan dengan baik. Puji mereka. Appresiasi mereka. Katakan hal hal yang baik itu harus diteruskan.
Sampaikan 3 area yang harus diperbaiki, karena seorang manusia atau sebuah organisasi harus selalu memperbaiki dirinya sendiri.

2. Praise them on their effort

Jangan lupa memuji, mengapresiasi dan memberikan feedback positive kepada usaha mereka (bukan hanya hasilnya). Kadang kadang suasana external memang susah, dan hasilnya memang belum datang. Tetapi anda tetap harus membedakan anak buah anda dalam 2 kategori: mereka yang berusaha keras dan yang lainnya. Jangan memperlakukan kedua golongan ini dengan sama.
Adil itu bukannya memberikan yang sama kepada semua orang.
Adil itu memberikan yang berbeda kepada setiap orang sesuai dengan kontribusi dan usahanya.

3. Challenge them to leave the complacency

Perusahaan itu, atau tim itu mungkin memang sukses di masa lalu (dan sampai sekarang). Tetapi ingatkan bahwa dunia selalu berubah. Bahwa kita harus selalu bersiap siap menghadapi taufan dan badai di depan kita. Sukses di masa lalu sama sekali tidak menjamin keberhasilan di masa depan.
Jangan terlena. Jangan compacent. Harus selalu mengevaluasi dan memperbaiki diri.
Kadang kadang hanya yang paranoid yang bertahan hidup.

4. Show the difference between their potential success and their current performance

Meskipun mereka sudah mencapai kesusksesan tertentu, tunjukkan bahwa masih ada celah yang belum digarap. It is your job as a leader to show the virgin teritorry that your team need to attack!

Ajak mereka untuk melihat potensi lain, di daerah lain, di segmen customer lain atau dengan product dan layanan lain, yang masih bisa dikerjakan untuk semakin meningkatkan kesuksesan perusahaan di masa depan.

5.  Help them to achieve their dream

Spend time with them. Understand them.
Berusahalah mengerti apa yang mereka cita-citakan dan mereka impikan?
Dan tugas anda sebagai leader  bukan hanya memastikan kesuksesan perusahaan dan kesuksesan karier anda sendiri.
Tetapi tugas anda adalah membantu anak  buah anda mencapai mimpi dan cita cita mereka.
Kesuksesan anda sebagai leader tidak hanya ditentukan oleh seberapa tinggi keberhasilan anda, tetapi berapa banyak anak buah yang anda develop pada proses mencapai keberhasilan itu .

Jadi ingat ya ....
Pemimpin itu harus memainkan 2 peran: motivator dan challenger.
Terapkan hal hal di bawah ini ...

1. Give balance feedback, 3 positive and 3 area of improvement
2. Praise them on their effort
3. Challenge them to leave the complacency
4. Show the difference between their potential and their performance
5.  Help them to achieve their dream

Sumber:
Pambudi Sunarsihanto

Tidak ada komentar:

Posting Komentar