17 Apr 2017

How To Be A Good Loser?

(Bagaimana menjadi "loser" yang baik?)

Dalam kehidupan, ternyata mau tidak mau kita memang akan sering bertanding, berkompetisi dan berlomba. Sejak kita dari TK sampai sekarang, kita dibiasakan lomba nyanyi atau lomba deklamasi, lomba olahraga, lomba seni, kita akan ikut tes seleksi SMP favorit, tes masuk SMA, ujian nasional, tes masuk perguruan tinggi, seleksi untuk perekrutan karyawan, promosi jabatan dan lain lain.
Intinya seringkali kita harus dihadapkan pada sebuah tes atau ujian, dan kemudian akan ditentukan siapa pemenangnya.

Nah, berdasarkan pengamatan saya pada orang orang yang sukses baik di bidang bisnis maupun olahraga, ternyata mereka itu adalah orang orang yang mampu menghadapi kemenangan dan kekalahan dengan baik.
Kalau mereka menang, mereka tidak lupa diri dan tetap rendah hati.
Kalau mereka kalah, mereka mengakui kekalahan itu dan bahkan mengucapkan selamat kepada pemenang.

Ini adalah karakter yang harus dimiliki. Karena  mau tidak mau, kalau anda bertanding, anda harus bersiap siap, bahwa kadang kadang anda menang, kadang kadang anda kalah.
Bagaimana sikap anda saat menang dan saat kalah, akan menjadi penentu karakter anda di masa depan.

Itulah yang jarang dipunyai oleh orang Indonesia.
Banyak yang kalau menang, malah lupa diri, bahkan mengejek lawannya.

Tapi parahnya, jarang sekali menjadi "loser" yang baik.
Seringkali yang kalah selalu protes berlama lama (buang waktu, energy, biaya dengan sia-sia).
Sedikit sekali yang mengakui kelemahan sendiri, mengakui kelebihan lawan, menganggap bahwa kekalahan adalah momentum untuk belajar dan memperbaiki sendiri.
Dan lebih sedikit lagi yang kalah dan berani mengucapkan selamat
kepada pemenangnya.
Pantas saja kata "sportif" susah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Lucunya, ada yang anti dengan kata kompetisi, dan menganggap bahwa kompetisi itu bukan bagian dari budaya Indonesia.
Well, silahkan menggunakan kata apapun, mau kolaborasi, atau kerjasama atau gotong royong, tetapi sayangnya memang seringkali setelah sebuah pertandingan (atau kompetisi) hanya akan menghasilkan satu pemenang dan yang lainnya terpaksa harus mengakui kekalahan.
Jadi kalau anda anti dengan kata kompetisi, ya lain kali silahkan menggunakan kata "kolaborasi sepakbola Indonesia Thailand" atau "kerjasama sepakbola" atau malah "kolaborasi Indonesia-Thailand, cuma mungkin teman teman anda akan menganggap anda lucu).

Anyway saya sangat suka dengan kompetisi, karena saya sangat suka belajar, menyiapkan diri atau
memperbaiki diri agar saya menjadi lebih baik.
Seringkali tanpa kompetisi kita tidak melihat opportunity untuk mempunyi urgency untuk memperbaiki diri.
Tentu saja yang saya maksudkan dengan kompetisi adalah kompetisi yang dijalankan dengan sehat, fair dan mematuhi semua aturan.
Dan saya sangat mendorong agar bangsa kita meningkatkan kompetisi kita dengan bangsa-bangsa lain di era global ini!

Maka, saya sangat menganjurkan agar kita mendidik diri kita sendiri, anak buah kita, dan anak-anak kita sendiri agar mampu berkompetisi, mampu menjadi pemenang yang baik dan mampu menjadi "loser" yang baik.

(Mohon maaf, kata "loser" sulit sekali diterjemahkan dalam bahasa Indonesia.
Seharusnya kita menggunakan kata "pengalah" tetapi jarang sekali digunakan. Yang sering digunakan adalah kata "pecundang" yang mempunyai konotasi negatif)

Padahal di Indonesia kita sering kali hanya diajari untuk  berlatih agar mampu bertanding. Tetapi kita jarang sekali diajari bagaimana menjadi pemenang yang baik, dan bagaimana menjadi "loser" yang baik.

Seorang atlit sejati mengerti cara cara menghadapi sebuah kompetisi adalah:
1. Mempelajari semua aturan
2. Mempersiapkan diri dengan baik (berlatih dan bersiap siap)
3. Mempersiapkan emosi dengan baik (siap untuk menang dan siap untuk kalah)
4. Pada hari H, menjalani pertandingan dengan berusaha sekeras mungkin dan mentaati semua aturan
5. Berbesar hati untuk menerima apapun hasilnya (baik menang ataupun kalah)
6. Terus belajar dan memperbaiki diri (baik setelah menang ataupun setelah kalah)

Anda lihat kan, perbedaan antara atlit sejati dan yang lain?
Sementara yang lain hanya berfokus pada 2 hal, No. 3 dan No. 4 (berlatih dan bertanding), seorang atlit sejati melakukan keenam langkah di atas.

Mungkin karena di Indonesia kita jarang dididik dan dilatih. Mungkin karena di sini kita hanya diajari untuk berlatih dan  bertanding.
Maka wajar kalau ternyata kita mungkin mampu menjadi pemenang yang baik, tetapi sedikit sekali yang mampu menjadi loser yang baik.

Makanya yang menang seringkali tidak berbesar hati. Dan sering kali yang kalah tidak mau menerima kekalahannya, dan lebih banyak protes , menghabiskan waktu, bahkan memanaskan suasana.

Tetapi bukankah tidak ada kata terlambat untuk memulai sesuatu yang baik?

Mari kita memulai kebiasaan ini. Menjadi pemenang yang baik kalau menang. Dan menjadi loser yang baik kalau kalah.
Dan mari kita mengajari anak buah kita, adik adik kita, dan anak anak kita, dengan memulai dari kita sendiri, dengan menjadi pemenang (atau loser) yang baik.

Menjadk  "loser" yang baik akan lebih meningkatkan martabat dan kehormatan anda.
Daripada anda hanya protes, membuang waktu, memanas-manasi suasana, yang hanya akan membuat anda kehilangan reputasi baik anda.

Di bawah ini ada beberapa tips untuk menjadi "loser" yang baik ...

1. Sadari bahwa kekecewaan itu wajar
 
Pertama, anda harus menyadari bahwa kekecewaan itu wajar. Siapa yang suka kalah? Kita lebih suka menang daripada kalah kan? Siapa yang tidak sedih bila kalah? Wajar. Dan sangat manusiawi!
Tapi jangan terlalu lama hanyut di situ. Bersedihlah untuk beberapa saat. Jangan tenggelam terlalu lama.
Hidup anda tidak akan berhenti karena anda kalah.
Masih ada kehidupan. Masih ada harapan. Dan masih ada kompetisi berikutnya yang bisa anda menangkan. Camkan itu!

2. Ambil segi positifnya, banyak yang anda pelajari selama "bertanding"

Kalau anda berfikir positif, sebenarnya anda banyak melakukan experiment, anda   banyak belajar, anda banyak berusaha dan anda banyak bekerja keras.
Apapun hasilnya, kompetensi anda meningkat pesat.
Hal itu tidak akan terjadi kalau anda tidak berkompetisi.
Syukurilah, bahwa anda berani mengikuti kompetisi.
Syukurilah, bahwa anda  belajar banyak.
Syukurilah, bahwa anda meningkatkan kompetensi dan level anda!

3. Coba lagi dan coba lagi, masih ada kesempatan berikutnya
 
Hidup anda tidak akan berhenti setelah kekalahan ini kan? Protes dan memanas-manasi suasana hanya akan membuat reputasi anda semakin buruk, dan akan memperkecil kemungkinan anda menang di kompetisi berikutnya.
Bangunlah, segera bangkitlah dari kekecewaan dan kegagalan.
Tersenyumlah, syukurilah, apapun yang terjadi!

4. Berikanlah ucapan selamat kepada mereka
 
Jadilah loser yang  baik. Jadilah loser yang terhormat.
Datangilah mereka.
Akuilah bahwa memang mereka lebih layak menang, apapun yang terjadi.
Berikanlah selamat kepada mereka!
Mereka berhak mendapatkan ucapan selamat dari siapapun, termasuk dari anda!

5. Belajar lagi dan bersiaplah untuk kompetisi berikutnya
 
Jangan terlalu lama beristirahat. Segeralah mengevaluasi diri. Segeralah menganalisa. Dan buatlah action plan, bagaimana anda akan belajar, berlatih dan bekerja untuk memperbaiki diri, dan mempersiapkan diri, untuk kompetisi  berikutnya.

Ingat, ikuti lima langkah di bawah ini, agar anda menjadi "loser" yang baik?

1. Sadari bahwa kekecewaan itu wajar
2. Ambil segi positifnya, banyak yang anda pelajari selama "bertanding"
3. Coba lagi dan coba lagi, masih ada kesempatan berikutnya
4. Berikan ucapan selamat kepada mereka
5.  Belajar lagi, dan bersiaplah untuk kompetisi berikutnya!

Ingat, harga diri anda, martabat anda, kehormatan anda, reputasi baik anda, jauh lebih berharga daripada kemenangan (yang sesaat) itu sendiri.

Sumber: Pambudi Sunarsihanto

Tidak ada komentar:

Posting Komentar