23 Jan 2017

Menjadi Pribadi yang Menang (Falsafah Hidup Sunan Bonang)

Sepanjang hidup manusia selalu berada di dalam arena peperangan “Baratayudha” (jihad) antara kekuatan nafsu muthmainnah/ nafsu yang tenang/ sumber inspirasi ilahi (Pendawa Lima) melawan nafsu ammarah/ nafsu yang mengajak pada keburukan, dan nafsu lawwamah/ nafsu yang mengajak pada penyesalan masa lalu, dan kebimbangan masa depan  (100 pasukan Kurawa). 

Perang berlangsung di medan perang  yang bernama “Padang Kurusetra” (Kalbu). Melambangkan peperangan yang paling berat dan merupakan sejatinya perang adalah perang melawan diri sendiri yang letaknya di dalam kalbu.

Kemenangan Pendawa Lima diraih dengan tidak mudah. Dan sekalipun kalah 100 pasukan Kurawa selamanya selalu ada dalam rupa pikiran, emosi, dan ego. Bilamana seseorang mampu mencapai nafsu muthmainnah, akan tetapi nafsu ammarah dan nafsu lawwamah akan selalu ada sepanjang hayat masih dikandung badan, dan para Kurawa senantiasa mengincar untuk membajak kesadaran kita kapan saja saat kita lengah, sesederhana suara yang berkata "aku telah tenang" adalah suara Kurawa juga.

Berbagai macam cara untuk memenangkan peperangan besar tersebut. Di antaranya dengan laku eling (ingat) untuk meraih kemenangan melalui empat tahapan yang harus dilaksanakan secara tuntas. Empat tahapan tersebut dikiaskan ke dalam nada suara instrumen Gamelan Jawa yang dinamakan Kempul atau Kenong dan Bonang yang menimbulkan bunyi; Neng, Ning, Nung, Nang.

1. Neng; 

artinya jumeneng, berdiri, sadar atau bangun untuk menyadari setiap suara yang berada di dalam alam pikiran, menghayati setiap gerakan, merasakan setiap sensasi panca indera. Berserah sepenuhnya untuk membangkitkan kesadaran batin, serta mengistirahatkan kesadaran jasad (hidup dalam mati, mati dalam hidup/ urip sak jeroning pati, pati sak jeroning urip) bahwa jati diri ini bukanlah pikiran dan sensasi panca indera sebagai upaya menangkap dan menyelaraskan diri dalam frekuensi  gelombang Tuhan.

2. Ning; 

artinya dalam jumeneng kita melakukan “hening” atau mengheningkan daya cipta (akal-budi) agar tersambung dengan daya rasa-sejati yang menjadi sumber cahaya nan suci. Tersambungnya antara cipta dengan rahsa akan membangun keadaan yang wening. Dalam keadaan “mati raga”  kita menciptakan keadaan batin (jiwa/nafs) yang hening, khusuk, namun  jiwa tetap terjaga penuh dalam kesadaran lahiriah dan batiniah.

3. Nung; 

artinya kesinungan. Bagi siapapun yang melakukan Neng, lalu berhasil menciptakan Ning, maka akan kesinungan (terpilih dan pinilih) untuk mendapatkan anugerah agung (dengan ijin-NYA) dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Dalam Nung yang sejati, akan datang cahaya di atas cahaya yang tersadari melalui rahsa yang memahami di atas kata (limbic dissonance), diteruskan kepada jiwa, untuk diolah oleh jasad yang suci menjadi manifestasi perilaku utama (lakutama). Perilakunya Insya Allah senantiasa konstruktif dan hidupnya Insya Allah bermanfaat untuk orang banyak.

4. Nang; 

artinya menang; orang yang terpilih dan pinilih (kesinungan), Insya Allah akan selalu terjaga amal perbuatannya.  sehingga amal perbuatan tersebut akan menjadi benteng untuk diri sendiri. Ini merupakan buah kemenangan dalam laku eling tadi.

Kemenangan yang berupa anugerah, kenikmatan, dalam segala bentuknya serta meraih kehidupan sejati, kehidupan yang dapat memberi manfaat  (rahmat) untuk seluruh makhluk serta alam semesta.

Seseorang akan meraih kehidupan sejati, selalu tentram batinnya apapun keadaan yang dihadapinya, punya uang atau tidak punya uang sama saja, hidup atau mati sama saja, punya pasangan atau tidak punya pasangan sama saja, punya keturunan atau tidak punya keturunan sama saja, punya mobil atau tidak punya mobil sama saja, punya jabatan atau tidak punya jabatan sama saja, dan seterusnya. Ia yang terbimbing oleh cahaya ilahi akan selalu netral, sentral, dan transendental.


Neng adalah syariatnya (petunjuknya), Ning adalah tarekatnya (latihannya), Nung adalah hakikatnya (esensinya), dan Nang adalah makrifatnya (tercapainya kesadaran jati diri)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar